Jumat, 20 Oktober 2017

Bangkok, perjalanan impian bersama sahabat #AAGOMakeItReal

Kata orang travelling itu bukan semata masalah destinasi tetapi dengan siapa kamu pergi. Saya setuju dengan ini, bahkan kesenangannya sudah dimulai sejak tahap perencanaan. Dan, Bangkok akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk berjalan bersama sahabat.
***

“Kenapa kamu akhirnya mengurus paspormu yang hilang?” tanya  Angga, sahabat saya sejak kami masih berseragam putih abu-abu.

“Bukankah selama ini kamu malas mengurusnya, dan takut dengan perkataan orang mengenai dendanya.” Sambung Angga lagi.

Saya menunduk, mengaduk-aduk teh leci kesukaan dan menyesapnya pelan-pelan. “Entahlah, saya mungkin ingin melangkah lebih jauh.” Jawab saya sambil mengangkat bahu. Saya tahu pasti tak mudah menabung untuk melihat negeri-negeri lain. "Tak ada salahnya bersiap, kan.” Kata saya lagi.

Angga tersenyum, lalu terdiam sambil memainkan kopi dalam cangkir. "Saya ingin ke Bangkok," katannya. 

Pernyataan tiba-tiba itu tak lagi membuat saya terkejut. Sejak lama saya mengetahui Angga ingin menginjakkan kaki di negeri gajah putih itu. Selembar foto sang ayah di depan Grand Palace yang menjadi pemicunya. Satu-satunya benda kenangan akan ayahnya. 

"Hei, bagaimana jika kita wujudkan impianmu itu," kata saya. 

Tangan Angga seketika berhenti mengaduk, matanya terbelalak dan senyum seketika merekah di bibirnya. Bagaikan boneka kucing keberuntungan, kepalanya terus mengangguk-angguk. “Kita harus ke Grand Palace” katanya. Lalu menyodorkan gawainya pada saya. Ternyata, ia bahkan sudah melakukan berbagai pencarian informasi selama ini. Layar gawai menampilkan paket perjalanan selama 3 jam dari www.airasiago.co.id. Menarik juga pikir saya sambil membayangkannya. Saya akan dijemput di hotel lalu diajak mengunjungi kompleks tempat tinggal raja Thailand ditemai seorang pemandu. Sepanjang perjalanan saya akan diceritakan mengenai arsitektur yang menghiasi istana yang dibangun tahun 1782 itu. Selain itu, jelas saya akan membayangkan bagaimana terharunya Angga bisa menginjakkan kaki di sana. Dan, mungkin saja ia akan membuat rekonstruksi foto milik ayahnya.

Foto diambil dari: www.airasiago.co.id


“Pasti, Grand Palace akan masuk itinerary kita untuk hari pertama,” kata saya dengan yakin. Saya mengembalikan gawai milik Angga lalu membuka situs www.airasiago.co.id di gawai saya sendiri. Meneliti satu demi satu rekomendasi atraksi wisata yang terdapat di dalamnya.

”Mari kita buat itinerary-nya!” Ajak saya pada Angga. Kami memutuskan untuk mengambil paket bundling tiket pesawat sekaligus hotel. Alasannya sederhana, selain murah tentu saja karena kami malas untuk mencarinya secara terpisah. Kami ingin tiba sedini mungkin di Bangkok, agar dapat lebih banyak waktu untuk mengekplorasi kota ini. Untuk penginapan kami juga bersepakat untuk memesan hotel yang berada di pusat kota dan Shangri-La Wing, Deluxe River ViewRoom, 2 Twin Beds adalah pilihan kami. Warna warni lampu kota akan memanjakan mata kami saat malam tiba. Selain itu, kami juga berencana memesan transportasi bandara melalui www.airasiago.co.id untuk menuju ke hotel. Ini adalah pilihan terbaik, ketimbang mengurusnya di sana atau menggunakan transportasi umum. Kami hanya takut nyasar. Setelah menitipkan koper, kami hanya perlu menunggu jemputan untuk menuju Grand Palace.

Shangri-La, www.airasiago.co.id


Wah, ada Sea World versi Bangkok, nih.” Kata saya dengan mata jenaka. Angga membalas dengan anggukan. Sebagai pecinta bawah air, kami tak mau melewatkan tempat ini. Suasanya dalam wahana aquarium terbesar di Asia Tenggara ini terkesan damai. Menyusuri terowongan yang meliuk secara perlahan seakan membawa kami kedunia lain. Bayangkan, ada 30,000 satwa laut yang siap bercengkrama. Ini akan jadi pengalaman yang menyenangkan, pikir saya.


Sea Life Bangkok Ocean World, www.airasiago.co.id



Untuk makan siang hari pertama kami memilih untuk berburu Mango Sticky Rice demi memuaskan rasa penasaran akan rasanya. Tak perlu makanan berat karena saya tertarik untuk menyeret Angga mengikuti kursus memasak makanan khas Thailand di Blue Elephant Cooking School. Kesempatan langka yang tak boleh dilewatkan, bertemu dan diajari memasak oleh koki-koki hebat di Thailand. Siapa tahu, setelah ini saya bisa menjadi peserta kompetisi memasak, kan. “Lihat, kita akan disuguhi minuman herbal khas dan memasak 4 hidangan,” kata saya. Jadi, pasti perut ini akan kenyang dengan hasil masakan sendiri.

Kursus memasak di Blue Elephant Cooking School, www.airasiago.co.id



“Ok, karena kamu sudah memilih kegiatan sore, saya akan memilih untuk malam harinya,” kata Angga. “ Bagaimana jika kita melihat pertunjukkan Siam Niramit,” sambungnya. 

Saya tentu saja meyetujuinya. Selain alam, budaya tentu saja menjadi hal yang diincar ketika mengunjungi sebuah negara. Mempelajari budaya Thailand dengan suguhan yang memanjakan panca Indra seperti yang terdapat dalam paket rasanya menjadi pilihan yang sulit untuk ditolak. Apalagi ada fasilitas penjemputannya pula.

Pertunjukkan Siam Niramit, www.airasiago.co.id


Hari ke-2, kami sepakat untuk menghabiskan hari bermain di sisi sebelah utara kota Bangkok. Menikmati kota tua Ayuttaya dengan sepeda, menjelajahi waktu kembali ke 200 tahun silam, membayangkan seperti apa wujud asli reruntuhan di sana. Mengagumi berbagai Pagoda yang bediri kokoh melewati zaman, berkunjung ke desa hingga berpura-pura menjadi penghuni Istana Musim Panas Bang Pa-In. Saya  sadar dengan bobot tubuh  yang besar, tentu saya akan kehabisan napas ketika mengayuh sepeda. Tetapi, saya yakin akan mendapatkan banyak cerita di lokasi yang menjadi situs pusaka dunia versi Unesco ini. Paket yang ditawarkan oleh AirAsiaGo ternyata sudah termasuk penjemputan dan makan siang sehingga kami tak perlu merisaukan bagaimana cara menuju kota tua Ayuttaya.

Kota Tua Ayuttaya, www.airasiago.co.id


“Karena saya tahu kamu pasti kelelahan setelah bersepeda seharian, bagaimana jika kita ambil paket petualangan jajan pinggir jalan untuk malam harinya?” Usul Angga. “Menarik, tapi rasanya saya tak sanggup lagi berjalan.” Jawab saya. "Hei, ini akan menyenangkan. Surga makanan kecil, ada pemandunya dan naik tuk-tuk,” lanjut Angga. 

Saya segera membaca paket yang tertera di www.airasiago.co.id tersebut dan segera menyetujuinya. Bayangkan saya akan diajak keluar masuk lorong sempit dengan tuk-tuk. Lalu menjelajahi pasar Saphan Khao dan Phra Athit Road yang memiliki banyak penjual jajanan khas. Melihat gambarnya pun ternyata mampu membuat saya menteskan liur. Sate sosis, bakso ikan gilling, roti tradisional Bangkok dan menutup hari dengan  bersantai sejenak di tepian sungai Chao Praya. Ah,  Bangkok ternyata memiliki kehidupan malam yang menarik, pikir saya.

Jajanan pinggir jalan Bangkok, www.airasiago.co.id


“Kalau begitu hari ke-3 kita harus ke pasar apungnya,” kata saya.
“Apa menariknya, di Banjarmasin kan juga ada,” kata Angga dengan muka mengesalkan.

“ Satu,  pasar terapung Damnoen Saduak ini lokasi syutingnya City Hunter.” Kataku sambil menyebutkan sebuah drama favorit. “Dua. Pasar tradisional selalu menampilkan hal-hal otentik dari sebuah daerah,” sambung saya lagi.

Damnoesn Saduak memang berada agak sedikit di luar kota Bangkok tetapi dengan mengambil paket, kami tak perlu risau mengenai transportasi. Penjemputan akan dilakukan di Hotel. Mobil akan membawa kami melihat gaya hidup masyarakat di pedesaan sepanjang distrik. Melihat proses pembuatan gula dan cerita mengenai aliran sungai Damoean Saduak. Bukankah hal paling menyenangkan adalah berinteraksi dengan orang lokal. Akan ada banyak cerita dari interaksi yang tercipta. Tak lupa, menaiki sampan dan menyusuri sungai sambil melihat suasana pasar serta menemukan harta karun tak terduga yang tersimpan diantaranya.


Pasar Terapung, www.airasiago.co.id


Kembali ke Bangkok, tentu saja Chatuchak Weekend Market adalah pemuas dahaga belanja yang sempurna untuk didatangi. Membeli sedikit oleh-oleh untuk orang kantor dan keluarga adalah agenda yang cukup penting. Sedikit sogokan, agar mudah mendapatkan ijin untuk perjalanan selanjutnya.



“Hei, ternyata merencakan perjalanan bisa semenyenangkan ini” Kata Angga. Saya mengamininya. Merencanakannya saja sudah membuat bahagia bagaimana nanti melakukannya. Bangkok adalah kota yang ramah untuk wisatwan, kota tempat mimpi kami berada. Mimpi untuk menginjakkan kaki di negeri lain, dan mimpi untuk melakukan perjalanan dengan sahabat. 

***


Artikel ini diikutsertakan pada kompetisi #AAGOMakeItReal . Kamu juga bisa mengikuti lomba ini dengan informasi lengkap di sini.





Sabtu, 17 Juni 2017

Sesederhana itu saja sih


Tidak pernah ada karya yang jelek. Suka atau tidak suka terhadap sebuah karya kembali pada selera seseorang. Dan, buat saya karya Pandji Pragiwaksono masuk dalam selera saya.

***

Desember 2012, Ade –teman saya- menghubungi dan meminta saya untuk menemaninya menonton konser. “Ini Pandji ci, loe pasti suka deh,” begitu katanya. Tanpa berpikir panjang saya menyetujuinya. Saya mengenal Pandji sebagai pembawa acara serta pengisi program provocative proactive yang tayang di Metro TV, saya sempat mengunduh pula tulisannya yang berjudul Nasional Is Me, namun saya tak pernah tahu bahwa Pandji juga bisa menyanyi.

Saya tak punya ekspetasi apa-apa saat menginjakkan kaki di Museum Nasional. Toh, sebenarnya saya lebih ingin menonton pertunjukan stand up comedy, namun sayang tiket terusannya sudah habis. Satu persatu penonton datang dan semakin banyak dengan berbagai atribut yang menunjukkan kebangsaan."Hebat ini orang, de,” begitu kata saya pada Ade. Bayangkan dia berhasil mendatangkan penonton dari berbagai kelas ekonomi. Mereka datang mengenakan atribut yang menunjukkan kecintaan mereka pada bangsa ini. Ada yang datang dengan celana super pendek, sepatu hak tinggi namun memakai kaus bertuliskan Indonesia. Mereka yang datang ternyata juga penikmat musik Pandji, terbukti dari banyaknya suara yang ikut bernyanyi. Mungkin hanya saya saja yang saat itu baru mendengar lagu-lagunya. Konser  32 menjadi awal kecintaan saya pada Panji sebagai rapper. Saya jatuh cinta pada lagu-lagunya yang mengangkat nasionalisme, bangsa ini butuh lagu-lagu seperti itu. Sepulang dari konser saya membeli sebuah jaket bertuliskan Indonesia:, serta membeli semua album hip-hop Pandji yang dijual di wsydnshop.com. Tanda masuk konser berupa gelang masih saya pakai hingga bertahun-tahun kemudian hingga akhirnya harus dipotong karena tangan saya yang membesar sehingga tak bisa lagi dilepas.

Jaket Indonesia: saya pakai untuk jalan-jalan

Koleksi Album Pandji
Gelang tanda masuk konser 32




Mei 2015, saya memutuskan untuk datang ke acara workshop Indiepreneur yang diselenggarakan di Comma Id. Impulsif, itu saja alasananya. Tiba-tiba saya memutuskan untuk datang karena melihat sebuah twit dari Pandji. Saya menghadiri 3 dari 5 kelas yang digelar.  Buat saya pertemuan  dengan pandji malam itu benar-benar membawa berkah. Banyak orang yang cerdas atau kreatif namun tidak banyak orang yang mau berbagi dan Pandji adalah satu dari sedikit orang itu. Banyak hal yang saya dapat dalam workshop tersebut, prinsip “Save the Cow”, prinsip “bukannya gak mau nungguin tetapi menghargai yang datang tepat waktu” atau prinsip “mencoba memahami sebelum membenci” saya dapatkan dari workshop ini. Prinsip yang kini saya coba terapkan dalam hidup. Sepulang dari workshop ini saya mengunduh ebook Indiepreneur, gratisan memang tetapi bermanfaat. Saya sempat membuat tulisan tentang workshop Indipreneur disini. Selain itu saya membuat rangkuman materi pembuatan proposal yang saya bagikan pada seorang sahabat di Surabaya dan kami masih menggunakan cara-cara yang diajarkan Pandji hingga sekarang.
Free ebook Indiepreneur
Foto bareng setelah workshop


Oktober 2015, berita baik itu datang. Pandji akan menggelar  tur Nusantarap. Ini dia yang saya tunggu-tunggu, begitu pikir saya. Sebagai penggemar lagu-lagu Pandji saya tak akan melewatkan kesempatan ini. Saya pun menyeret seorang teman untuk menemani saya menonton Show Case Nusantarap. Tiba di lokasi, saya diberi sebuah gelang kertas tanda masuk. Sepi, itu yang saya lihat ketika saya masuk ke lokasi. Saya memilih sebuah sofa persis di depan panggung kecil sehingga saya bisa leluasa menonton. Sebagai persiapan saya sudah menyalin lirik lagu-lagu Pandji  ke dalam ponsel, saya mau ikut menyanyi. Hal ini saya lakukan, karena walau sekeras apapun saya mencoba menghapal, saya tak pernah bisa mengikuti beat Pandji ketika bernyanyi, saya hanya hapal bagian reff-nya saja. Malam itu saya merasa senang luar bisa, ini seperti konser yang digelar hanya untuk saya pribadi. Penonton yang datang bisa dihitung dengan jari namun banyak rekan komika yang datang, seperti Babe Cabita yang mencoba break dance namun berakhir dengan kepala terbentur lantai.

Show Case Nusantarap
Gelang tanda masuk Show Case Nusantarap


Kecerian berlanjut di Tur Nusantarap di Depok. Saya hadir tepat waktu, membeli tiket, mendapatkan kartu member coffe toffee, dan segelas kopi. Malam itu saya larut dalam melodi milik Pandji, mengikuti setiap lirik, meloncat dan bergoyang, ikut mengepalkan tangan ketika lagu menoleh dan ikut bernyanyi. Selesai konser saya mendapat kesempatan untuk foto bersama Pandji. Kali ini saya mendapat kesan lain tentang Pandji, ia adalah orang yang menghargai Wongsoyudan. Ia tak akan pulang sebelum semua penonton pulang, ia memberikan kesempatan untuk penonton foto bersamanya. Hal ini saya temui juga dibeberapa kesempatan lain. Selain konser musik, saat itu Pandji membuka penjualan merchandise, saya ingin sekali membeli kaus Nusantarap namun sayangnya saya tak membawa cukup uang malam itu. Namun saya berhasil mendapatkan kaus yang dimaskud, seorang sahabat di Surabaya yang membelikannya dan mengirimkan ke Jakarta. Niat awalnya saya ingin menonton Nusantarap yang di Bogor atau Jakarta, berjanji sama sahabat dari Surabaya dan Jogja untuk menonton Nusantarap di Jogja, namun sayangnya rencana tersebut tidak terwujud. Tapi saya tak melewatkan untuk membeli album Nusantarap.

Foto dulu abis nonton Nusantarap di Depok

Kaus Nusantarap diajak jalan-jalan ke Belitung


Maret 2016, Pandji meluncurkan buku Menemukan Indonesia. Saya langsung melakukan pemesanan awal melalui website WSYDN. Alasannya sederhana, ini buku dengan genre travelogue, saya yang memang menyukai perjalanan jadi penasaran perjalanan seperti apa yang ditulis Pandji. Saya datang, mendengarkan cerita-cerita dibalik pembuatan buku, hingga kisah-kisah yang ada di dalam buku. Satu hal yang saya ingat saat itu, saya tak merasa menyesal membeli buku menemukan Indonesia. Banyak hal yang membuka mata saya dalam buku tersebut. “Terimakasih sudah membeli buku saya, kamu sering datang yah” begitu kata Pandji saat saya meminta tanda tangan. Saya bengong,  ternyata Pandji ingat saya. Ah, saya lupa, coba saat itu sekalian saya minta cap bibir untuk dibuku saya yah.

Peluncuran buku Menemukan Indonesia


Desember 2016, saya datang menghadiri Juru Bicara World Tour Jakarta bersama 3 teman. Alasannya sederhana, penasaran. Apa sih lucunya Pandji sehingga stand up comedy tour- nya selalu penuh. Saya mendapatkan tiket presale yang berarti pula saya mendapat kesempatan untuk berfoto. Ketika menunggu pertunjukkan mulai, Pak Anies lewat di sebelah kursi saya. “Wah, ada bakal calon, kira-kira nanti materinya ada unsur pilkada gak yah?” begitu tanya Mumu, teman saya. Saya hanya tersenyum, lalu menjawab “ Gak kok, jangan khawatir, Pandji juga sudah memberikan pernyataan tentang ini lewat twitternya”. Nyatanya, Pandji benar-benar memenuhi janjinya untuk tidak menyinggung soal pilkada malam itu. Penasaran saya  juga  terjawab dengan gelak tawa yang rasanya tak putus-putus. Saya merasa tak mendapatkan kesempatan untuk menarik nafas sejenak. Cerdas, itu yang saya tangkap. Bagaimana tidak, isu-isu berat bisa ditampilkan dengan begitu ringan dan lucu. Ada hal yang membuat saya terharu malam itu, saat saya naik ke panggung untuk berfoto dengan Pandji, ia tersenyum menjabat tangan saya lalu berkata “ siapa yah nama kamu?, kita sering yah ketemu”. “Suci,” jawab saya. Wow lagi-lagi Pandji ingat saya, ia mengingat dengan baik siapa-siapa saja yang pernah datang ke acara yang ia bikin. “ Bang, ditunggu konser Hip-hopnya yah”, kata saya. “Pasti,” jawab Pandji sambil tersenyum.

Foto bareng setelah nonton Juru Bicara



Selepas Juru Bicara, Pandji mengumumkan bahwa ia benar-benar menjadi seorang Juru Bicara. Keputusan yang menuai banyak pro dan kontra. Semakin panas suasana perpolitikkan Ibu kota, semakin banyak teman yang memutuskan untuk mengucap selamat jalan pada Pandji.  Saya jelas memiliki pandangan yang berbeda dengan Pandji, saat itu saya tidak lagi membaca Pandji.com, namun disaat yang bersamaan saya masih menunggu newslatter yang dikirim ke email semua wongsoyudan. Karena email ini terasa begitu personal dan tak ada muatan politik. Beberapa teman yang kontra selalu mention saya setiap twit Pandji yang dianggap kontroversial menurut mereka. Namun teman yang pro Pandji justru mempertanyakan kenapa saya punya pandangan yang berbeda. Buat saya alasannya sederhana saja, saya bukan warga DKI buat apa saya ikut-ikutan ribut, selain itu Pandji tak pernah memaksakan penggemarnya untuk memiliki pandangan yang sama dengan dia, jadi mengapa saya harus memaksakan pandangan idola saya harus sama dengan saya. Saya yakin Pandji punya alasan yang kuat mengapa memilih menjadi Juru Bicara, sama seperti saya yang juga memiliki alasan mengapa bersebrangan dengan Pandji. “Pandji lupa apa yang pernah ia utarakan dalam materi stand upnya, lagu-lagunya, atau tulisan-tulisannya” begitu kata seorang teman. Saya penasaran hingga suatu hari saya mention Pandji  mengenai lagu demokrasi kita. Twitt saya dibalas, ia ternyata masih ingat dengan jelas lirik lagunya. Terlepas dari keputusan teman-teman lain, ternyata sampai saat ini saya masih follow Pandji,  masih sering mendengarkan lagu-lagu Pandji, masih baca buku yang saya punya, masih pakai jaket Indonesia: dan kaus Nusantarap untuk jalan-jalan dan masih menunggu karya musik Pandji. Saya mengunduh lagu "satu lawan banyak" yang menurut saya bukanlah selera saya serta lagu "sentimental" yang saya suka sekali sehingga kerap saya dengarkan.



seorang teman di Semarang yang mengucap selamat jalan pada Pandji




Unduh satu lawan banyak


suka banget sama lagu sentimental




***
Hidup itu selalu bergerak, perubahan adalah suatu yang pasti. Terlepas dari hiruk pikuk dunia perpolitikkan yang membuat banyak orang merasa Pandji berubah, saya masih menunggu lagu-lagu Pandji. Saya akan segera mengunduh, lalu mendengarkan. Jika saya suka maka saya akan masukan dalam playlist, jika tidak maka lagunya mungkin bukan selera saya. Sesederhana itu saja sih.


Jumat, 03 Maret 2017

Menjelajahi Sai Kung dengan rekomendasi warga lokal

Hong Kong adalah salah satu kota besar dan dikenal sebagai kota Metropolitan, namun ternyata juga memiliki banyak hal untuk dijelajahi, jika saja kita tahu tempat yang tepat. Maka mendapatkan rekomendasi dari orang lokal menjadi hal yang menyenangkan. Karena sebuah perjalanan akan menjadi semakin menarik jika kita bisa melihat segala-sesuatu dari kacamata orang lokal.







4 tahun lalu saya bertemu Ester untuk pertama kalinya. Ia adalah penggiat heritage yang bermukim di Hong Kong. Di sana, Ester dan teman-teman mengembangkan sebuah aplikasi yang berisi peta jelajah yang dapat dilakukan dengan berjalan kaki ke tempat-tempat otentik di Hong Kong.  Di sela-sela pekerjaan kami, saya mendapat banyak cerita mengenai Hong Kong dan membuat saya ingin mengunjunginya.



“Jika suatu hari kamu berkunjung ke Hong Kong, datanglah ke Sai Kung” Kata Ester. Sai Kung adalah sebuah daerah yang terdapat di wilayah “New Territories” menjadi pilihan Ester dan tim untuk dibuatkan jalur jelajah dan aplikasinya. “Kamu hanya perlu sekitar 2 jam untuk mengelilinginya dan jangan takut karena rute menuju Sai Kung juga mudah” lanjut Ester. Menurutnya, Sai Kung adalah tempat yang tepat jika ingin merasakan kehidupan masyarakat lokal. Apalagi atmosfir yang ditawarkan sungguh berbeda dari Hong Kong pada umumnya. “Ritme hidup di Sai Kung terasa lebih lambat” begitu kata Ester. Alasan lainnya adalah karena Sai Kung dikelilingi oleh taman nasional yang luas, pantai, pelabuhan, pulau hingga kota tua dan bangunan heritage.

Untuk menjelajahi Sai Kung, mulailah dari Tin Hau Tempel sebuah Klenteng yang dibangun untuk menghormati  Dewa Laut. Terletak di Po Tung Road dan buka dari pukul 08.00 hingga pukul 5 sore. Klenteng yang merayakan 1 abad pada tahubn 2016 lalu ini sebetulnya merupakan gabungan dari 2 buah klenteng yang dijadikan satu pada tahun 1916. Ada satu rahasia di klenteng ini, bagi mereka yang telah selesai melakukan ritual pembakaran dupa dan berdoa  akan pergi menuju ruangan tidur Tin Hau. Mereka percaya bahwa siapa yang berhasil menemukan kacang dibawah kasur Tin Hau maka akan segera memiliki bayi.  Selain itu, jika berkunjung di tanggal 3 bulan tiga kalender imlek maka lautan turis nampak di Klenteng ini untuk melihat festival Tin Hau. Awalnya festival ini hanyalah sebuah ritual memohon berkah, mendapat tangkapan yang banyak dan dapat kembali dengan selamat setelah bekerja menangkap ikan yang dilakukan oleh para nelayan tetapi saat ini orang-orang akan datang berduyun-duyun untuk memohon keselamatan.


Festival Tin Hau. sumber: http://www.discoverhongkong.com/eng/see-do/events-festivals/chinese-festivals/birthday-of-tin-hau.jsp
Tin Hau Temple. Sumber:https://www.shutterstock.com/image-photo/tin-hau-temple-sai-kung-hong-141543997?src=RkYNEhxDwpXwQsNuyrhLOA-1-0

Sebagai daerah yang dekat dengann pelabuhan, maka tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Sai Kung jika belum mendatangi Pasar Ikan. Tetapi mampirlah sejenak ke Anchor Man, sebuah toko yang menyediakan perlengkapan bagi Anda yang ingin melakukan penjelajahan dengan kapal. Lokasinya berada di 2A Hoi Pong Street dan buka setiap hari pada pukul 10.00-17.00. Segala macam jenis tali, pelampung bahkan jangkar berbagai ukuran dapat ditemui di sana. Sementara itu, pasar ikan selalu dipenuhi oleh banyak aktifitas. Selain jual beli serta tawar menawar, ada perahu-perahu yang datang untuk menurunkan hasil tangkapan, memasukkannya ke tangki dan mengirimkan ikan segar ke hotel, restoran dan supermarket di Hong Kong.





“Jika lokasi ini dekat dengan pelabuhan, berarti ada banyak kapal. Apakah kita bisa naik kapal juga” tanyaku pada Ester. “Oh tentu saja, ketika kamu tiba di pelabuhan carilah sebuah meja hijau yang dijaga oleh seorang wanita paruh baya, di sana kamu bisa memesan sampan” jawan Ester. Yim Tin Tsai, sebuah pulau yang terletak hanya 20 menit dari pelabuhan bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi dengan sampan. Menariknya, di pulau ini terdapat sebuah desa yang dahulu dihuni sekitar 1000 orang dari suku Hakka namun kini seperti ditinggalkan. Tumbuhan liar perlahan menutupi rumah-rumah, kini semakin mirip dengan hutan dan seperti menarik pengunjung kembali ke masa lalu. Destinasi utama adalah st. kapel joseph , sebuah kapel sederhana yang telah mendapatkan penghargaan sebagai situs warisan dunia pada tahun 2005. Selain itu, Ester pun memberitahu saya sebuah rahasia. Sebelum pergi dengan sampan, mintalah si Ibu untuk membawa tur mengelilingi pelabuhan, dan kita bisa semakin mengenal daerah Sai Kung dari cerita si Ibu. Biasanya untuk tur ekstra ini ada biaya sekitar 100-150 dolar Hong Kong yang harus dibayarkan tetapi itu semua tergantung dari kemampuan tawar-menawar kita.



“Bagaimana dengan makanan, apa yang akan kamu rekomendasikan untuk saya? Tanyaku lagi. Pertanyaan sederhana yang dijawab Ester dengan menunjukkan sebuah video. Hakka Snack / Mrs. Hui Traditional Chinese Rice Dumplings yang terletak di 21 See Cheung Street menjadi rekomendasi Ester.  Toko yang buka dari pukul 10 pagi hingga 6.30 sore ini menawarkan berbagai macam jajanan khas Sai Kung yang terbuat dari tepung beras dengan aneka rasa, ada yang manis dan ada yang asin. “Kamu tidak akan menemukan snack yang sesehat ini.” Lanjut Ester.  Bagaimana tidak sehat, bahan-bahan pembuatan penganan ini organik, selain tepung beras ada juga kacang-kacangan, biji-bijian, dan herbal. Rice Dumpling yang disediakan memiliki rasa yang segar karena dibuat langsung di dapur yang berada di belakang toko, dikukus dalam keranjang bambu dan disajikan dengan sangat menarik. Baunya menggoda selera, lembut dan kenyal ketika digigit tetapi terasa lumer didalam mulut. Kesukaan Ester adalah “black rice dumpling with crushed sesame and peanut”. Harganya hanya 13 dolar Hong Kong untuk 1 paket isi 2.




Sai Kung menawarkan pesona lokal pada mereka yang ingin memiliki arti lebih dalam perjalannya. Ada 35 tempat yang direkomendasikan oleh warga lokal Sai Kung yang terdiri dari objek wisata, makanan, minuman, tempat berbelanja dan hal-hal unik yang bisa menjadi kejutan. Saya pun rasanya tak sabar menginjakkan kaki di Sai Kung, berjalan dari satu gang ke gang lainnya, melompat dari satu tempat ke tempat lainnya, membaur dengan masyarakat dan mendengar cerita langsung dari sumbernya, jika saja saya mendapat kesempatan mengunjungi Hong Kong. 


Bersama Anne, salah satu staff  I Discovery City Walks Hong Kong







 “Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog   #WegoDiscoverHK"

Selasa, 31 Januari 2017

Suasana Imlek di Klenteng Dhanagun, Bogor

Bogor adalah kota yang akan saya tuju ketika perayaan Cap Go Meh berlangsung. Buat saya, pawai kebudayaan peranakan dan kebudayaan asli Bogor yang menyatu dalam kemeriahan selalu menarik untuk didatangi. Tetapi bagaimana dengan Imlek, apakah akan seramai ketika parade Cap Go Meh berlangsung? Rasa penasaran ini yang membawa saya dan seorang teman melangkahkan kaki menelusuri pecinan Bogor saat Imlek.


Kami memulai penjelajahan dari jalan Suryakencana. Sebuah gerbang cantik menjadi penanda keberadaan pecinan Bogor. Gerbang dengan atap berbentuk ekor walet ini menampilkan pula kekhasan budaya Bogor dengan adanya sebuah kujang dibagian atap utama serta dua buah patung macan disisi kanan dan kiri.  Tak jauh dari gerbang ini berdiri sebuah Klenteng yang berusia lebih dari 300 tahun. Kelenteng inilah yang menjadi tujuan kami.


Pintu gerbang Klenteng Dhanagun


Hujan yang tak henti mengguyur kota Bogor pada pergantian tahun tidak menyurutkan langkah para umat yang ingin beribadah. Sebaliknya justru disyukuri sebagai simbol keberuntungan. Lilin-lilin  berbagai ukuran berderet rapi di halaman depan klenteng. 

“Lilin ini simbol dari rasa syukur” kata Pak Japra, pria paruh baya yang bertugas di Klenteng menyapa kami dengan ramah. Menurut cerita Pak Japra, lilin-lilin besar tersebut merupakan pemberian umat, wujud nazar ketika doa dan keinginan mereka tercapai. Sesuai janji mereka saat doa terucap pada pergantian tahun sebelumnya. Nyala lilin merupakan simbol harapan, dan doa yang terus menyala untuk sepanjang tahun. 

Lilin-Lilin yang diletakkan pada halaman depan Klenteng


Namun lilin-lilin tersebut hanya akan menyala selama 12 hari saja, karena lokasinya akan dipergunakan untuk persiapan puncak perayaan Imlek yaitu Cap Go Meh. “Nanti di sini ada potong lidah, sehari sebelum Cap Go Meh” lanjut Pak Japra. Saya mengerutkan dahi, berusaha membayangkan bagaimana ritual itu berlangsung. “Mungkin seperti ritual Tatung di Singkawang” kata Murni teman seperjalanan saya saat itu.


“Seperti debus” seloroh pak Japra. Ritual potong lidah juga merupakan simbol permohonan pada Dewa agar diberikan keselamatan, keberkahan hingga terhindar dari bahaya. Ritual ini juga menjadi saat yang tepat untuk memohon kelancaran dalam hal bisnis ditahun yang baru. 

Murni sedang memotret Pak Japra
“Nanti siapa yang dipotong lidahnya? Bapak yah?” tanya Murni lagi. Pak Japra tersenyum mendengar pertanyaan itu lalu menjelaskan jika yang akan melakukan ritual tersebut adalah para pendekar yang disebut sebagai tangsin dan berasal dari perguruan beladiri. Ia sendiri mengaku tidak ingin berada didekat para tangsin, takut nanti roh yang masuk ke raga para tangsin menyasar ke dalam dirinya. Coba saja bayangkan, darah yang mengucur dari luka yang terbuka akibat sayatan lalu ditampung dan dipergunakan untuk menulis serangkaian doa dan harapan pada kertas sesaji. 

Ritual ini tentu saja menarik ratusan orang untuk datang dan melihat. Maka Pak Japra menyarankan kami untuk datang lebih awal, “ Acaranya dimulai pukul 3 sore tetapi datanglah sejak pukul 12, agar bisa mendapat tempat yang baik untuk foto” kata Pak Japra mengakhiri percakapan sambil menunjuk kamera kami. Saya tersenyum lalu pamit untuk melihat-lihat bagian lain dari  Klenteng.

Asap tebal dan harum hio yang dibakar menyeruak ketika saya beranjak ke ruang utama Klenteng. Belasan orang hilir mudik di dalam Klenteng, membawa hio berbagai ukuran di tangan. Mengangkat hio setinggi kepala, memejamkan mata seraya berdoa dengan khidmat pada Thien dan para dewa. Anak kecil, pria, wanita hingga orang tua berjalan dari satu altar ke altar lainnya, sibuk mengucap syukur, menguntai doa serta harapan. Beberapa fotografer membidikkan kameranya namun tak sampai mengganggu mereka yang beribadah.






Sebuah pohon hoki dengan bunga berwarna merah berdiri disebuah sudut. Alih alih angpao, saya melihat kartu-kartu harapan tergantung di dahan pohon. Saya pun tergerak untuk ikut menuliskan harapan. “mau nulis harapan dapat jodoh” jawab saya ketika Murni bertanya apa harapan yang ingin saya tulis. Kami pun segera menghampiri satu persatu petugas di Klenteng untuk bertanya dimana kami bisa mendapatkan kartu harapan. Sayangnya kami tidak berhasil mendapatkan satupun siang itu.








Keluar dari bangunan utama Klenteng kami disapa oleh seorang lelaki paruh baya yang baru saja selesai beribadah. Bapak Setiawan namanya, ia berdomisili di Jakarta namun juga kerap beribadah di Klenteng Danagun.  “ ijin moto pak, ingin lihat kemeriahan Imlek” kata saya sambil membalas sapaan Bapak Setiawan. 

Ia menuturkan jika ingin melihat keramaian Imlek cobalah datang ke Klenteng ketika malam menjelang pergantian tahun baru. Banyak orang akan datang ke Klenteng untuk mengucap syukur. Imlek itu bersyukur kepada tuhan karena memberi hujan, kesuburan dan segalanya hingga bisa bercocok tanam dan memohon supaya hasilnya bagus. 

“Semua manusia kan butuh pangan, pangan dari mana? ya dari tuhan, walau kita yang mengerjakan, makanya kita harus bersyukur” lanjutnya. Tidak heran Imlek itu umumnya pasti sedang musim hujan. Penanggalan Tiongkok kuno itu biasanya tepat, contohnya tanggal 15 itu pasti sedang bulan purnama. 

 “Jadi makanya tgl 15 itu ada Cap Go Meh ya pak” tanya saya

“Iya, Imlek itu istilahnya kita sudah bersyukur maka Cap Go Meh itu puncak perayaannya. Setelah Cap Go Meh maka kita harus kembali bekerja. Karena tuhan sudah menyediakan segalanya sama kita, iklimnya, tanah yang subur, maka manusia harus bekerja yang rajin. Nenek moyang kita itu apapun bangsanya sebenernya sama mengajarkan kita untuk bersyukur dan rajin” kata pak Setiawan sebelum akhirnya ia pamit pulang.




Pecinan Bogor saat Imlek memang tidak seramai saat Cap Go Meh digelar. Bila kemeriahan Cap Go Meh identik dengan perayaan dan suka cita maka saya melihat ketaatan para umat dalam beribadah saat Imlek. Syukur satu kata yang sering saya dengar siang itu. Mungkin itulah makna sejatinya imlek. Namun bukankah mengucap syukur pada tuhan adalah sebuah hal yang seharusnya dilakukan oleh semua umat beragama, apapun agamanya. 





Tulisan ini saya  sertakan dalam lomba blog: “Perayaan Imlek di Indonesia” di sini


Selasa, 30 Agustus 2016

Sawahlunto: Batu Bara, De Grave, Tambang dan Orang Rantai.



Sawahlunto kota Tambang. Rasanya tulisan ini kerap saya temui ketika mobil yang saya tumpangi membelah jalanan Kota Sawahlunto. Berada sekitar 95 km sebelah timur laut Kota Padang dan membutuhkan waktu berkendara sekitar 4 jam.

Destinasi wisata unggulan di Sawahlunto pun berhubungan dengan tambang. Pada kegiatan #PesonaMinang bersama Pesona Indonesia beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi 4 diantaranya yakni Lubang Mbah Soero, Museum Tambang, Museum Kereta  dan Gudang Ransoem yang keempatnya berkaitan satu sama lain.

Cuaca panas tak menghalangi langkah saya ketika berusaha mengejar teman-teman lain yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju Lobang Mbah Soero. Jarak yang dekat antara Gudang Ransoem dan Lobang Mbah Soero membuat tim memutuskan untuk berjalan kaki. Saya dan teh Nita tertinggal dibelakang karena kami sibuk membeli berbagai buku mengenai Sawahlunto terlebih dahulu.




Tiba di Lokasi saya disambut papan nama besar bertulisakan InfoBox. Memasuki gedung InfoBox atau yang lebih dikenal sebagai Lobang Mbah Soero maka hal pertama yang nampak pada ruang pendaftaran adalah seonggok rantai dalam etalase kaca yang mengingatkan kita akan orang rantai. Semula Infobox adalah sebuah gedung pertemuan buruh yang juga menanyangkan berbagai hiburan yang diadakan setelah hari gajian. Pada lantai 2 gedung ini terdapat galeri foto sedangkan bagian belakang ruang pendaftaran berisi sejumlah sepatu boot dan helm yang harus dikenakan oleh pengunjung sesaat sebelum memasuki Lobang Mbah Soero yang berada tepat di halaman samping gedung info box.




Mengunjungi Infobox sama seperti kita belajar mengenai sejarah kota Sawahlunto. Sejarah Kota Sawahlunto sebagai kota Tambang telah dimulai sejak pertengahan abad ke 19 ketika C. De Groot van Embden memulai penyelidikan kemungkinan keberadaan batubara pada tahun 1858. Namun nama yang jutsru dikenal luas berjasa menemukan batubara di Sawahlunto adalah Willem Hendrik De Grave, seorang geolog kelahiran Froon-Acker 15 April 1840. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang mengedepankan pendidikan hingga akhirnya mendapatkan gelar sarjana pertambangan saat ia berusia 19 tahun. Karirnya dimulai dengan mengikuti pelatihan dari pemerintahan kerajaan Belanda pada 14 Desember 1861 hingga akhirnya berangkat ke Hindia Belanda pada Agustus 1862.

Di Hindia Belanda ia mulai dengan menjadi asisten C. De Groot van Embden di Bogor. Tugasnya kala itu adalah membantu penelitian dan pemetaan kandungan bahan mineral. Ia pun sempat ditugaskan untuk peneliti kandungan timah di Bangka, Seram dan Jawa Barat sebelum akhirnya berangkat ke pedalaman Minangkabau dengan tugas peneliti kemungkinan keberadaan kandungan biji tembaga. Tugas ini ia kerjakan dengan baik walau ternyata kandungan biji tembaga di pedalaman Minangkabau tidaklah menggembirakan. Tugas di Bumi Andalas pun berlanjut ketika ia menerima surat tugas pada 26 Mei 1867 untuk meneruskan penelitian mengenai batubara di Ombilin Sawahlunto. Berhubung penelitian batubara di Ombilin ini sudah pernah dilakukan oleh C. De Groot van Embden, maka tidak ada kesulitan yang berarti untuk De Grave. Ia mulai penelitiannya dengan menbaca laporan-laporan penelitian De Groot.

De Grave memulai penelitiannya dari hulu sungai Ombilin yang berada tak jauh dari Singkarak dengan melibatkan pula penduduk lokal. Ia tak hanya mengarungi sungai tetapi menaiki bukit, keluar masuk hutan belantara dan menuruni lembah. Pada tahun 1868 De Grave mengambil kesimpulan bahwa hasil penelitian menunjukkan jalur Ombilin benar-benar kaya akan batubara dengan perkiraan lebih dari 200 juta ton. Hasil penelitian De Grave membuat pemerintah Hindia Belanda senang bukan kepalang. Bagimana tidak, dengan batubara sebanyak itu mereka tidak perlu lagi membeli batubara dari Afrika yang harganya mahal.

Tambang batubara pun dibuka dibeberapa tempat. Para pekerja didatangkan dari penjara-penjara di Padang dan pulau Jawa atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Mendatangkan pekerja dari penjara dinilai memakan biaya yang lebih murah, selain memangkas pengeluran untuk penjara, batu bara didapat dan uang pun mengalir dengan deras. Para perkerja inilah yang dikenal sebagai orang rantai, karena selama mereka bekerja dan beraktifitas tangan serta kaki tak lepas dari rantai. Hal ini untuk mengantisipasi agar para pekerja tidak melarikan diri.

Puas mendapat penjelasan mengenai sejarah kota Sawahlunto, kami mengenakan sepatu boot dan helm pengaman lalu beranjak menuju Lobang Mbah Soero. Saya melihat sebuh pintu melengkung dengan tulisan 258mdpl serta tangga batu terjal yang harus kami turuni untuk masuk kedalam bekas lubang tambang ini. Lobang Mbah Soero dikenal juga sebagai Soegar dan dibuka pada tahun 1898. Namun pada tahun 1932 tambang ini ditutup karena sejumlah alasan diantaranya adanya gas yang berbahaya, rembesan air dari sungai Lunto dan ada rencana untuk menjadikan tambang ini sebagai cadangan batubara. Lubang tambang dengan kedalaman 258mdpl ini diberi nama Soegar oleh Belanda yang berarti gula, hal ini dikarenakan hasil buminya banyak dan keuntungan yang dicapainya terasa manis seperti gula.




Pada tahun 2007 tambang dibuka kembali untuk dijadikan sebagai destinasi pariwisata mengingat nilai sejarah yang ada didalamnya. Lorong-lorong diperbaiki supaya keamanan pengunjung terjaga. Namun ada bagian-bagian yang masih menampakkan keasliannya seperti frame kayu yang dulunya digunakan sebagai kusen pintu. Menurut pemandu kami, beberapa lorong ditutup berdasarkan permintaan dari paranormal yang ikut serta pada saat pembukaan kembali lorong ini. Saat itu diadakan pula penelitian ketahanan bangunan struktur penyangga lalu  ditambahkan blower untuk mengalirkan oksigen.



Lebih lanjut bapak pemandu menjelaskan bahwa pada  peta lama, terdapat 6 level dalam tambang ini , namun yang dibuka saat ini baru level 1. Karena level lainnya masih terendam air yang terus merembes. Pemandu kami juga menjelaskan cara mengambil batubara yaitu  dengan membuat lorong vertikal bisa sampai puluhan kilometer. Jika mereka dirasa sudah tidak ada lagi batu bara yang dapat diambil mereka menggali mundur dan membuat lorong ke kanan dan kirinya sambil tak lupa membuat penyangga agar meminimalisir bahaya runtuh.

Tiba di level 1 kami diarahkan untuk melalui lorong disebalah kanan, di kiri dan kanan masih bisa kita jumpai batubara. Tahukah kamu, ternyata saat tambang ini direncakan sebagai cadangan batubara, diatasnya lalu dibangun rumah-rumah karyawan. Seiring berjalannya waktu pernah ada wacana untuk membuka tambang dan mulai produksi kembali namun hal ini dirasa sulit karena rumah-rumah yang berdiri diatasnya bukan lagi hanya milik karyawan namun milik warga. Sampai saat ini  diperkirakan masih terdapat deposit 40 ribu juta ton batubara dengan kalori sebesar 6.000-7.000 dan merupakan kualitas terbaik nomor tiga di dunia. Ketebalan lapisan batubara jenis C saja bisa sampai 15 meter.  Saat ini sedang dilakukan penyelidikan dan rencana untuk penambahan jalur wisata sepanjang  800 meter.

Ketika saya melangkahkan kaki didalam lorong yang sempit dan lembap, dengan air yang masih terus menetes saya membayangkan betapa sulitnya hidup orang rantai.  Orang rantai ternyata kebanyakan berasal dari penjara-penjara di Surabya, Glodok, dan penjara Cipinang di Batavia. Mereka dibawa dari Pulau Jawa dengan kapal melalui pelabuhan Tanjung Priuk menuju Pelabuhan Emma Haven (teluk bayur) lalu dilanjutkan dengan kereta menuju Sawahlunto. Perjalanan tersebut memakan waktu 4-7 hari tergantung pada kecepatan kapal. Menurut data milik Hindia Belanda diketahui bahwa pada tahun 1892 terdapat 1500 tahanan yang dikirim ke Sawahlunto.  Tahanan dengan fisik yang gemuk dan dirasa kuat ditempatkan untuk bekerja di dalam lubang tambang. Pekerjaan di tambang meliputi menggali batu bara, mengangkat balok-balok kayu, serta membuat penyangga lorong sementara mereka yang dianggap memiliki fisik lemah mendapat tugas dibagian perawatan dan pemilahan batubara.

Pembagian kerja di dalam tambang dilakukan berdasarkan sistem bergilir dengan pembagian giliran kerja  1: dimulai jam 6 sampai jam 2 siang, giliran kerja ke- 2  mulai jam 2-10 malam dan giliran kerja ke- 3 jam 10 malam – 6 pagi. Biasanya mereka yg mendapatkan giliran kerja pertama akan bangung pukul 4 pagi lalu solat subuh, mandi serta berkemas lalu kaki, tangan dan leher mereka pun dirantai. Mereka berjalan secara berkelompok sekitar 5-7 orang dengan rantai yang terhubung satu sama lainnya melintasi jalanan kota menuju lubang tambang. Sebelum memulai pekerjaan diadakan apel pagi di dekat tambang, disini mandor akan mengabsen mereka dan memeriksa tubuh mereka dengan teliti, korek api tidak diperkenankan dibawa dalam lubang karena dikhawatirkan memicu kebakaran mengingat adanya gas yang berbahaya. Benda-benda tajam pun termasuk benda terlarang untuk meminimalisir kemungkinan perkelahian antar orang rantai.

Mandor lalu akan menyuruh orang rantai masuk kedalam lubang, berbaris menghadap dinding lorong, dan mulai bekerja.  Mandor pun bisa sewaktu-waktu memberi perintah untuk pindah yang berarti orang rantai harus bergeser ke kiri atau kanan mengikuti perintah. Apabila orang rantai berhenti mengayunkan belincong (alat untuk menggali batubara) niscaya bentakan serta caci maki yang didapatkan mereka, dan jika ada yang menolak bekerja maka timah panas pun akan melesat mengambil nyawa secepat kilat. Area bekerja yang sempit, udara yang pengap, panas dan resiko kecelakaan kerja yang tinggi membuat pekerjaan di dalam tambang menjadi sangat berat apalagi setiap orang rantai memiliki target penggalian sebesar 1.8 ton setiap giliran kerjanya. Terbayang bagaimana mereka harus bekerja keras.

Selain kewajiban bekerja di tambang, orang rantai mendapatkan hak berupa ransoem dengan menu sederhana yang dimasak di Godeang Ransoem, cemilan berupa lapek, pisang goreng dan teh manis  yang diberikan disela jam istirahat kerja, uang gaji sebesar 7 sen per hari (tahun 1902, lalu meningkat menjadi 11,5. ) serta uang premi yang sayangnya uang tersebut pun biasanya habis begitu saja untuk hiburan yang disediakan oleh pengelola tambang. Orang rantai pun kerap  mengalami pemotongan uang gaji dan premi oleh oknum pejabat Belanda. Setelah jam kerja selesai, orang rantai kembali diajak berjalan melintasi kota menuju tangsi, namun ada juga kebijakan yang menyatakan bahwa orang rantai boleh menghirup udara diluar tangsi semisal berjalan di pasar sampai dengan pukul 5 sore itu pun dengan keadaan masih mengenakan rantai.

Orang rantai memang didatangkan dari berbagai penjara namun pada masa itu penghuni penjara bukan hanya diisi oleh orang jahat. Banyak pula orang rantai yang sejatinya dipenjara dalam usahanya membela republik atau sekedar mempertahankan tanah mereka bahkan memberontak pada pemerintahan Hindia Belanda.




Lobang Mbah Soero dan lubang-lubang tambang batu bara lainnya pernah mencapai masa jaya nya, pernah menghasilkan uang yang sangat amat banyak yang sayangnya tidak dinikmati dengan layak oleh pribumi namun mengalir kepada pemerintahan hindia belanda. Lubang-lubang ini kini mengingatkan saya betapa kejamnya penjajahan, betapa sulitnya hidup yang dijalani orang rantai bahkan mungkin orang-orang yang justru membela tanah air kita.